Sabtu, 07 April 2012

AKU, NENEK dan Sajadah Tua


Sajadah itu masih saja tergeletak disana, ditempat dimana dia terakhir di tinggalkan. Tujuh tahun yang lalu ketika rumah tua ini di huni oleh seorang perempuan tua. Perempuan tua yang tubuhnya mulai bungkuk karna ortoporosis. Hidupnya sangat sederhana, tinggal disebuah rumah tua yang lebih pantas di sebut gubuk diantara beberapa rumah gedung disekitarnya. Rumah yang hanya berdinding papan yang disana sini sudah dimakan rayap, dan lantai semen yang telah retak dimakan usia. Pakaian yang digunakanya tidaklah bisa dibilang bagus, tubuhnya hanya dibungkus kebaya tua dan jilbab yang senantiasa menutupi rambutnya, yang telah beruban. Perempuan tua yang senantiasa tersenyum didalam susah sekalipun. Sajadah itulah yang senantiasa menemaninya disaat ia melakukan ibadah dan menghadap tuhannya, disamping satu set mukena yang sudah lusuh dan bertambal di salah satu sudutnya.
         Aku masih terpaku disebuah ruangan yang tak layak disebut ruang tamu. Didalamnya berisi satu meja panjang ditemani dengan kursi panjang didepanya, yang busanya sudah berserakan dimana-mana, sepertinya para tikus selalu mengadakan pesta setiap malam disini. Tidak ketingalan pula sebuah lemari berukuran 1X2 meter dengan pintu kaca yang terletak di sudut ruangan, namun sepertinya kaca itu sudah tidak betah lagi bersarang di lemari tersebut, buktinya yang terlihat sekarang hanya sebuah lemari yang pintunya bolong-bolong tanpa kaca.
*****
         Aku mengintip dibalik tirai kamarku. Dari kejauhan terlihat sebuah mobil merci keluar dari pekarangan hingga kejalan raya, dan kemudian satpam menutup pintu pagar. “yes!” aku meloncat kegirangan. “
         “Akhirnya mereka pergi juga, jadi aku bisa bermain sepuasnya ”bisik hatiku girang. Aku heran, biasanya mereka tidak pernah ada dirumah, kenapa hari ini mereka betah betul dirumah.
Hmm, aku harus mencari akal supaya bibi tidak tau aku pergi. Aku duduk di kursi belajar, tangan kananku kuletakkan diatas meja sebagai penompang dagu. Sedangkan jari kiriku kuketuk-ketukan keatas meja layaknya seorang kontraktor handal yang sedang berfikir bagaimana membangun jembatan antara Bali dan Pulau Jawa. Dan tiba-tiba. 
THING! 
       Aku membayangkan ada lampu pijar yang menyala terang diatas kepalaku seperti adegan dibeberapa film kartun yang sering aku tonton, tidak lupa aku menjentikan tanganku. “Yeah! Aku dapat ide” . Aku segera bangkit menuju tempat tidurku, kemudian aku mulai menyusun bantal serapi mungkin.
Yep! Hampir selesai, tapi ada yang kurang. Hmm! Aku keluar mengendap-endap. Setelah yakin aman, segera ku berlari ke sebuah kamar yang tidak jauh dari kamarku. Sepi. dia pasti masih disekolah, karna sekolahnya sampai sore. Mataku tertuju pada sebuah lemari yang berisi bermacam boneka tersusun rapi. Wah… tidak rugi juga ya, aku punya kakak perempuan yang gemar mengoleksi boneka. Apa yang kucari sudah aku dapatkan, sebuah boneka berbentuk manusia dengan rambut berwarna hitam lurus menyerupai rambut asli.
        Aku kembali kekamarku dan menyelesaikan pekerjanku, dan akhirnya selesai juga. Sekarang rencana utama siap dijalankan. Aku keluar kamar dan kembali mengendap-endap menuju blakon samping, meloncatinya dan berjalan pelan diatas atap genteng menuju pangar tembok. Satu lagi keuntungan yang ku dapatkan disini, orangtuaku membuat rumah dengan atap yang menjorok kepagar, dan yup! Tangga rahasiaku masih bersandar rapi di luar pagar.
***
         “Assalamu’alaikum”.
        “Wa’alaikum salam”. Terdengar balasan dari dalam. Aku kenal betul dengan suara itu. Suara yang terdengar agak berat, mungkin karna usianya yang sudah lanjut.
“kamu datang toh nak. Apa orang tuamu tidak marah kamu kesini? Apa kamu sudah meminta ijin sama mereka? Ingat lho mereka orangtuamu, kamu harus mengatakan pada mereka kemanapun kamu pergi”. Nenek menyambutku dengan rentetan pertanyaan. Aku mengangguk. Aku terpaksa berbohong. Aku tidak ingin ada gurat kesedihan dimatanya, karna ketidaksenangan orangtuaku terhadapnya.
          “Orangtuamu mengijinkan kamu kesini?” tanyanya meyakinkan.
         “iya nek. Mereka mengijinkanku, katanya aku sekarang sudah boleh bermain kesini” ucapku meyakinkan nenek. Ada perasaan bersalah bersemayam di dadaku. Tapi aku terpaksa berbohong, kalau tidak, mana mungkin aku bisa kesini. Allah pasti mengerti kok, kenapa aku berbohong, toh demi kebaikan jugakan. Karena disinilah aku mengenal arti kehidupan yang sebenarnya, disinilah aku mengenal tuhanku. Dirumah inilah aku di ajari banyak hal, dan aku belajar banyak hal. Tidak seperti rumah gedung yang aku tinggali sekarang, hanya kesendirian dan kesuntukan yang aku rasakan. Entah kapan mereka terakhir shalat, mungkin sekitar 2 tahun ,3 tahun atau 4 tahun yang lalu, itupun hanya slahat ID yang diadakan 2 tahun sekali, mungkin mereka melaksanakannya dibelakang aku. Entahlah. Tapi, yang pasti aku tidak diajarkan kebaikan disana, yang aku terima hanya tuntutan untuk menjadi yang terbaik.
          Pandanganku tertuju pada tangan nenek yang asik memasukkan benang kejarum. Berkali-kali dicoba tapi selalu gagal. Aku tahu matanya sudah agak rabun dan tidak seberapa jelas melihat, walau dia sudah bermata empat, mungkin karena kaca mata yang di gunakanya tidak dapat membantunya lagi. Dia hanya tersenyum dan menjawab bahwa kita harus bersyukur karna sampai sekarang dia masih diberi penglihatan walau tidak sejelas dulu.
          “Sini nek Rico bantuin” ucapku sambil mengambil tugas pemasangan benang ke jarum.
        “Untuk apa sih benang sama jarum ini? Emang apanya yang sobek nek? Tanyaku sambil memasukan benang ke jarum.
        “Ini, mukena nenek sobek, mungkin kesangkut paku, nenek tidak tau kapan, tau-tau sudah sobek begini.” Nenek memperlihatkan mukenanya padaku. Sobekanya cukup besar. Ada rasa miris dalam diriku. Keluargaku bisa membeli baju baru dan makanan enak setiap hari. Tapi nenek, untuk membeli satu helai mukena baru saja, mungkin tidak cukup uang.
          “Mukenanya harus diganti nek. Rico belikan yang baru saja, supaya nenek lebih enak shalatnya.”
         “Tidak usah, ini Masih bisa dipakai kok. Penting ibadahnya, bukan mukenanya. Kamu tabung uangmu, suatu hari nanti akan berguna. Lagipula nenekkan sudah tua. Mungkin sebentar lagi akan dipanggil Tuhan, kan sayang mukena bagus-bagus nanti tidak dipakai. He.he.he.” Tawa nenek lepas, seperti tidak ada beban dihatinya. Tapi aku berjanji akan membelikan mukena untuknya. aku tidak harus menabung lama-lama untuk membelikan mukena untuknya.
        “Bagaimana ngaji sama shalatmu? Kamu tidak pernah lupa untuk mengaji dan shalat lima waktu kan? Sudah sampai jus berapa sekarang?”Tanya nenek sambil menjahit tambalan mukenanya. Aku merasakan kasih sayang dan perhatian disini. Nenek selalu menanyakan perkembanganku. Sedangkan orangtuaku jangankan menanyakan perkembanagn mengajiku, melihat dan mendengar aku mengaji saja mereka tidak pernah. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Disinilah aku mulai mengenal huruf-huruf kalimat Allah,disinilah aku belajar bagaimana berkomunikasi dengan Tuhanku, nenek begitu sabar mengajariku akan hal-hal tersebut. Andai saja aku tidak bertemu denganya, andai saja saat itu aku tidak mencoba kabur dan bersembunyi dirumah tua ini dua tahun yang lalu, mungkin sampai sekarang aku tidak pernah mengenal agama.
            “Tidak nek, rico tidak akan pernah lupa untuk shalat, rico juga selau mengaji dan berdoa setiap selesai shalat, itukAN yang selalu nenek ajarkan pada rico. “ utara ku pada nenek.
            “Nek. Ceriatain lagi dong kisah-kisah perjuangan para nabi dalam memperjuangkan agama islam, rico juga belum seberapa hafal dengan beberapa hadist yang nenek ajarkan” pintaku pada nenek.
          “Baik. Nenek akan ceritakan dulu perjuangan nabi dalam memperjuangkan agam islam, nanti baru nenek melihat sampai mana sudah hafalan hadist kamu.” Nenek pun mulai bercerita. Ku perbaiki letak duduku agar aku lebih seksama mendengarkanya.
***
           Aku tersentak. Ternyata mereka telah duduk di kasurku. Aku melihat muka mereka merah karena menahan amarah. Ada ketakutan dalam diriku, tidak mungkin aku bisa kabur lagi. Gagang pintu tanpa sadar terlepas dari tanganku, dengan wajah tertunduk aku menghampiri orangtuaku.
Mama berdiri. “Kemana saja kamu Rico? Apa kamu ke rumah perempuan tua itu lagi? Sudah mama bilang berkali-kali,JANGAN ke rumah itu lagi. Kamu sudah pandai membantah mama sama papa? “hari ini mama seperti betul-betul marah.
         “Tapi ma, apa salahnya sih Rico kerumah itu, nenek itu baik ma. Dia mengajarkan rico banyak hal” aku mencoba membela diri.
         “Iya. Dia juga mengajarkanmu bagaimana membantah orang tuamu?
        “itu tidak benar mama”
       “Apanya yang tidak benar? Buktinya kamu sudah pandai membantah kami, itu terjadi semenjak kamu sering kesana, apa hebatnya sih perempuan tua itu.” Suara mama mulai meninggi. Aku melirik papa, papa masih terdiam disisi tempat tidurku.
        “ Ma. Nenek tidak bersalah apa-apa. kenapa mama selalu menghina nenek dan menyalahkan dia.”
        “ Dia bukan nenekmu. Dia hanya perempuan tua yang kebetulan tinggal di belakang rumah kita, dan dia tidak pantas jadi nenekmu.
       “mama!”
       “Cukup! Mama kamu benar Rico. Kamu tidak boleh membantah seperti ini. Sekarang tidak ada lagi toleransi, kamu harus pindah ke Bandung, ke rumah Tante ana dan sekolah disana. Lusa kamu akan diantarkan kesana, papa akan urus semuanya.” Akhirnya papa angkat bicara juga.
        “Apa? Rico akan sekolah ke Bandung?” Aku tidak bisa membayangkan betapa terkejutnya diriku mendengar semua itu.
        “Iya. Dan kamu tidak boleh membantah lagi.” Mama menambahkan
        “Tapi Rico sebentar lagi akan ujian Nasional pa.”
       “ Papa akan urus semuanya. Tidak ada kata tidak. Mau tidak mau kamu harus berangkat kesana. TiTIK!” Ucap papa tegas.
       “ Papa sama mama memang tidak pernah sayang sama Rico. Rico ini masih 12 tahun, tapi kenapa sudah dikirim kebandung, apa mama sama papa tidak menginginkan lagi Rico tinggal disini.” Tanpa kusadar airmata keluar begitu saja. Ini merupakan berita yang sangat mengejutkan bagiku.
       “Ini bukan masalah sayang atau tidak sayang. Ini semua demi kebaikan kamu. Pokoknya kamu harus pindah kesana. Tidak ada alasan lagi.” Papa masih saja pada pendiriannya.
Mama dan papa meninggalkanku. “Sekarang kamu tidak boleh kemana-mana”. Ucap mama sambil mengambil kunci dari pintu kamarku dan aku mendengar pintu dikunci dari luar. Aku terkejut dan berlari mengejar pintu. Ku coba membuka-buka pintu dan mengedor-ngedor pintu, berharap ada yang sudi membuka pintu.”ma..pa..buka pintu, rico gak mau dikurung di kamar. ma..buka. Mama sama papa jahat. Kalian tidak pernah menyayangi aku. Aku tidak mau dikurung bengini.” tangisku memuncak. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku hanya bisa terpekur di tempat tidurku.
***
          Akhirnya hari ini datang juga. Sebentar lagi, aku akan berangkat ke Bandung. Aku sadar tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa mengikuti keinginan mereka. Aku menuju dapur, surat yang kupegang ini harus segara kuberikan pada bibi, hanya bibi satu-satunya orang yang bisa kuandalkan sekarang.
          “Bi. “ panggilku. Ku lihat bibi menoleh dengan terkejut. Tangannya dipenuhi busa dari sabun cuci piring.
          “Eh. Den Rico. Ada apa den? “ buru -buru dia memcuci tangannya. Seakan dia tau bahwa akan ada tugas untuknya.
          “ Bi. Tolong berikan ini ya sama nenek salma, nanti sekalian dibacain juga, mungkin nenek gak jelas lihatnya nanti. Jangan lupa tu bi.” aku memberikan surat itu pada bibi. Bibi mengangguk dengan patuh.
          “Rico...cepat. Nanti kita ketinggalan pesawat” terdengar suara mama dari kejauhan. “ bi. Jangan lupa tu” kembali ku tegaskan bahwa surat itu penting. Aku berlari keluar, tidak ingin melihat kemarahan mama dan papa untuk kesekian kalinya.
***
            Pandanganku sekarang menuju ke atap. Ada banyak cahaya yang berlomba masuk lewat sela-sela atap bocor guna menyorot aku dan lantai yang kini telah ditumbuhi rumput liar. Aku mulai berjalan mengitari rumah ini, banyak sekali perubahan sejak terakhir ku tinggalkan, beberapa barang-barang yang kukenal tidak lagi berada ditempatnya. Ah. Mungkin ada pengemis atau siapalah yang telah mengambilnya, atau mungkin para tikus mengambilnya untuk perlengkapan pesta mereka.
Aku kembali terpaku pada sajadah tua yang begitu rapi berdiri disana. Ingatanku kembali kepada perempuan tua yang telah mengajariku banyak hal.

***
         " Papa tidak boleh seenaknya membongkar rumah itu.” protesku pada papa. Aku terkejut akan berita di koran bahwa rumah yang terletak di jalan sudirman no.35 akan dibongkar dan dijadikan salah satu mol dikota itu, dan yang lebih terkejut lagi, perusahaan kontraktor yang menangani hal itu adalah perusahaan papa. Tanpa berfikir panjang, aku langsung berangkat ke Jakarta, tanpa memberitahukan mereka dulu. Inilah hari pertamaku disini, setelah sekian tahun aku pergi.
           “ Dari mana kamu tau hal itu? Suara papa terdengar agak terkejut.
          “ Dari koran. Pa aku mohon. Dari kecil aku selalu menuruti omongan mama dan papa. Dan sekarang aku mohon jangan bongkar rumah penduduk hanya untuk memenuhi ambisi papa.” erang ku pada papa. Tapi sepertinya papa tidak mempedulikan permintaan aku.
         “ Kamu masih muda untuk memahami masalah ini. Selesaikan dulu kuliahmu. Ini biar urusan papa.” suara papa mulai meninggi.
         “kalau papa membangun mol disana, mereka mau tinggal dimana?” aku masih saja berdebat dengan papa.
          “kamu tidak perlu ikut campur urusan papa. Tanah itu sudah papa beli dengan harga yang pantas. Dan jangan suka kamu membantah papa ya. Papa sudah kecewa sama kamu karna kamu tidak menuruti kemauan papa untuk masuk ke sekolah bisnis. Kamu malah masuk ke fakultas agama. Ingat Kamu ini anak laki-laki satu-satunya, yang akan mewarisi perusahan papa. Dan seharusnya kamu setuju dengan semua ini. “ Kemarahan papa sudah tidak bisa dibendung lagi. Perdebatan segit terjadi juga. Dan akhirnya aku juga yang mengalah. Menerima keputusan papa dengan hati yang miris.

          Aku menarik nafas panjang dan berharap ada kelegaan saat membuangnya. Membuang semua kegelisahan dan kegetiran yang menyesak di dada. Sudah sembilan tahun aku tidak kerumah ini. Kenangan masa lalu menari-nari di pikiran ku.
           Apa itu? Ada kilauan di sajadah. Aku mulai mendekat. Keningku mulai berkerut. Penasaran. Dan aku semakin mendekat. Plastik. Nenek menyimpan sajadah itu dengan rapi dibalut oleh plastik, sehingga sajadah itu masih terawat walau ditinggal bertahun-tahun. Tanganku meraih bungkusan plastik itu. Membukanya. Ada sesuatu yang jatuh, tasbih dan sepucuk surat.

          Rico, cucu nenek. Apa kabar sayang. Tentu kamu sudah besar dan nenek tidak ada lagi saat kamu membaca surat ini. Tapi sampai kapanpun kasih sayang nenek tidak akan berkurang untukmu. Nenek akan tetap sayang padamu walaupun kamu bukan cucu kandung nenek.
Ini sajadah nenk simpan dengan baik. Nenek yakin suatu hari nanti kamu pasti akan kembali. Simpanlah sajadah ini beserta tasbih yang nenek simpan untukmu. Pesan nenek. Tetaplah istiqamah pada agamamu, jangan pernah meninggalkan shalat dan mengaji nak. Karena itulah yang akan membuatmu tenang disaat gusar sekalipun.
Nenek akan selalu sayang padamu
salam sayang cucuku
nenek

          Ku lipat surat itu dengan hati-hati, tanpa ku sadar air mata menetes di mataku. Aku tidak sempat mengantar kepergiannya dan juga tidak berpamitan saat meninggalkan kota ini. Kupeluk erat sajadah beserta tasbih pemberian nenek. Berjanji dalam hati akan mengingat terus nasehat nenek. Dan berjanji pada diri sendiri akan terus berusaha mengajak keluargaku menuju kejalan Allah. Aku berjalan dengan lesu meninggalkan rumah nenek. Rumah ayng sebentar lagi akn berubah menjadi mol yang megah.
      “ Ya Allah. Mudahkan lah jalan hamba dalam mengajak hamba-hambamu ke jalanmu Ya Allah.

Banda Aceh, September 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar