Kekesalanku pada yang namanya tukang parkir tidak terperikan lagi. Bagaimana tidak. Lihat saja, hampir disetiap sudut kampus ada mereka. Dengan santainya mereka membuat tempat nongkrong dimana-dimana. Bila dilihat suatu lahan yang biasa diparkirkan kendaraan bermotor oleh mahasiswa, maka lahan itulah yang akan menjadi sasaran mereka untuk mencari uang. Tidak tanggung-tanggung, biaya parkir yang diambil adalah seribu rupiah, dan bahkan ada yang marah-marah bila diberi lima ratus rupiah. Sehingga mahasiswa harus kelimpungan mencari tempat untuk memarkirkan sepeda motor mereka, agar tidak terkena biaya parkir. Termasuk aku. Maklum, aku merupakan mahasiswa rantauan yang memiliki uang saku yang pas-pasan. Terkadang isi dompetku hanyalah kartu-kartu dan atm yang tidak berisi uang. Jadi, bagaimana bisa membayar parkir. Alhasil aku harus mutar berjalan cukup jauh dari tempat aku memarkirkan sepeda motor ke ruang kuliah.
Mungkin bagi mahasiswa yang punya uang saku diatas rata-rata, tidak jadi masalah. Tapi bagaimana dengan mereka yang memiliki uang saku yang pas-pasan, yang pada dasarnya menggunakan sepeda motor untuk menghemat biaya dan waktu. Bagi mereka yang jarak rumah dengan kampus jauh, sehingga bila naik angkutan umum, mereka harus dua kali naik kendaraan, atau bagi mereka yang rumahnya terlalu masuk keperkampungan sehingga tidak dapat dijangkau kendaraan umum dan harus menggunakan becak atau RBT (sama seperti ojek). Bila permasalahannya seperti itu, maka solusi terbaiknya adalah melakukan perjalanan dengan mengendarai sepeda motor. Namun, jika dikampus dimana-mana sudah ada tukang parkir, akibatnya bukannya menghemat malah semakin boros.
Salah satu lahan yang paling empuk adalah kampusku. Kampusku dekat dengan ruang kuliah umum yang banyak digunakan oleh mahasiswa untuk belajar. Bahkan ruang belajar kami berdampingan dengan ruang kuliah umum, sehingga sebagian kampus kami tidak dibatasi. Hal ini mempermudah bagi mereka untuk menjadikannya sebagai lahan wajib bayar parkir. Dengan hanya bermodalkan sebuah kursi dan seuntas tali, mereka pun beraksi. Mengikatkan tali pada pohon atau penyangga lainnya dan hanya memberi celah sedikit sebesar pintu masuk, sehingga mau tak mau pengendara sepeda motor harus masuk dan keluar lewat celah tersebut dan wajib bayar.
Kekesalanku semakin menjadi-jadi saat suatu hari, aku baru saja memarkirkan sepeda motorku. Dari kejauhan aku melihat bagaimana susahnya temanku mengeluarkan sepeda motornya yang agak berhimpit dengan sepeda motor lain. Apalagi sepeda motor yang digunakan berjenis matic yang terkenal agak berat ditambah kondisinya yang lemah karena keseringan sakit. Berulang kali dia memanggil abang parkir untuk menolongnya. Eh… si abang malah pura-pura tidak tau dan memalingkan muka ketempat lain. Dia masih saja duduk santai menunggu jatah parkirnya diberikan. Untung saja, ada teman yang segera menolongnya mengeluarkan sepeda motor, yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat dia memarkirkan sepeda motornya.
Ternyata yang merasa kesal bukan cuma aku saja. Hampir semua mahasiswa di kampusku merasa kesal dengan ulah tukang parkir. Ulah mereka menjadi gosip yang hot dikalangan kampus. Hampir setiap perbincangan ada terselingi obrolan kekesalan mahasiswa. Pernah suatu kali saat aku sedang duduk dibangku taman bersama teman-teman. Seorang kakak leting begitu kesal karena ban sepeda motornya hampir saja di kempesin oleh tukang parkir, karena dia memarkirkannya diluar area parkir. Padahal disana sudah ada kawannya yang menunggu, karena dia tidak lama. Dengan kesal bercerita bahwa temannya sudah lelah memberitau si abang parkir bahwa mereka tidak lama. Eh.. si abang parkir tidak mau tau, untung dia keburu sampai, jadi pengkempesan ban tidak jadi dilakukan.
Namun malam itu. Saat aku menemani ibuku belanja keperluannya di salah satu pusat perbelanjaan di ibukota provinsi tempatku menuntut ilmu. Maklum ibuku terburu-buru datang kekota ini untuk ikut pelatihan sehingga ada beberapa keperluannya yang ketinggalan disana.
Seperti biasa, setiap pusat perbelanjaaan pasti ada yang namanya tukang parkir. Awalnya aku kesal, “huh tukang parkir lagi” keluhku dalam hati. Aku mengambil uang recehan lima ratus rupiah untuk kuserahkan kepadanya.
Aku tertegun, ada rasa iba dalam diriku. Lelaki ini gemetaran, padahal malam itu udara tidak terasa dingin. salah satu tangannya berpegangan pada sepeda motor yang berada didekatnya, sedang tangan yang satunya lagi mencoba mengatur sepeda motor. Dari fisiknya lelaki ini tidak muda lagi, umurnya berkisar 60an atau mungkin lebih. Kenapa dengan bapak ini? Apakah dia sakit? Kalau sakit, kenapa malam-malam masih bekerja? Berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku. Emang dasar hatiku keras. Pertanyaan hanyalah tinggal pertanyaan tanpa aku berusaha mencari tau, dan berlalu pergi begitu saja.
Setelah kejadian itu, aku mulai berfikir dan aku sadar, tidak semua orang didunia ini yang berkelakuan buruk. Tidak semua tukang parkir yang menjadikan pekerjaan ini sebagai ajang mencari uang dengan mudah. Namun ada dari mereka yang menjadikan pekerjaan ini sebagai ujung tanduk dari penghidupan mereka. Tukang parkir juga merupakan suatu pekerjaan yang halal. Daripada mereka mencuri dan mengemis dijalanan.
Seharusnya aku bersyukur, karena telah diberi rahmat yang begitu besar kepada keluargaku. Aku lahir dari keluarga yang gigih bekerja, sehingga aku sekarang hidup berkecukupan. Tapi diluar sana, masih banyak dari mereka yang kekurangan, yang tidak mempunyai pekerjaan yang memadai. Mereka akhirnya memilih jadi tukang parkir, yang ketika siang harus bekerja dalam teriknya matahari, yang terkadang teriknya seakan membakar kulit, namun mereka tetap tak bergeming, dan ketika malam tiba, mereka tetap harus bekerja dalam dinginnya malam, yang terkadang menusuk hingga ketulang-tulang. Mereka rela menjadi tukang parkir supaya bisa memberi makan anak istri mereka, supaya dapur mereka masih tetap mengempul. Dan berharap dari hasil yang tidak seberapa, mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka.
Kini aku sadar, tukang parkir bukanlah suatu pekerjaan yang salah. Mereka juga manusia, yang punya perasaan, yang butuh makan dan kebutuhan lainnya seperti manusia lainnya. Andai bisa memilih, mereka tidak ingin jadi tukang parkir yang terkadang dipandang rendah oleh orang lain. Semua itu mereka lakukan, agar mereka tidak harus jadi pencuri atau jadi pengemis yang meletakkan tangan dibawah, mengharap belas kasihan orang lain.
Ya. Tukang parkir juga manusia. Sama seperti kita.
Banda Aceh, 25 Maret 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar